KENYATAAN

Kenyataan dalam Pengalaman
Suatu saat, ada seseorang yang yang terluka dan dia menjerit bahkan berteriak kesakitan. Pertanyaannya, where is the real one? Jeritannya akan rasa sakit atau rasa sakit itu sendiri pada bagian yang terluka? Anda memilih yang mana? Jika anda memilih dua-duanya dengan alasan adanya korelasi antara teriakan rasa sakit dan luka itu sendiri. Anda harus berpikir dengan lebih cerdas karena kita berbicara tentang kenyataan [the nucleus of the real thing]. Kenyataan tersimpan dalam ada-nya sesuatu dan bukan pada pernyataannya. Pernyataan hanyalah konfigurasi atau pelabelan/pemadatan sesuatu dalam sebuah ungkapan [kata] terhadap sesuatu yang sungguh real. Hal ini terjadi dengan tujuan agar sesuatu mudah dipahami dan dibahasakan. Seperti analogi di atas, teriakan rasa sakit hanyalah pencabutan sesuatu yang real pada penyusunan bunyi dengan menderetkan sejumlah huruf. Kenyataan yang sesungguhnya terletak pada bagian yang menjadi sumber teriakan itu. Dan ketika kita berusaha menjelaskan kembali kenyataan itu [the real thing] kita akan sekaligus masuk dalam penjelasan bagian-bagian dari kenyataan dan tidak seluruhnya. Mungkin kita akan berusaha membandingkannya dengan banyak hal dengan tujuan untuk membedah the real thing dan memperoleh kepastian. Dan kita akan berkata ini yang benar. Namun demikian, bahasa yang terbatas dan mungkin wawasan dan intelektualitas yang ”hanya” seperti yang kita miliki akan membimbing kita pada labirin yang tidak pernah berakhir. Memang jelas akan menimbulkan banyak insight baru dengan ruang pandang yang semakin luas.

Namun, kenyataan diam dalam dirinya sendiri. Yang terkuak hanyalah konfigurasi kecerdasan kita atas views terhadap kenyataan-kenyataan. Hal ini melingkupi semua aspek. Teknologi, sosial, budaya dengan segala rambu-rambu penelitiannya dan lain-lain. Ketika kita ”merakit” sesuatu misalnya kita sekaligus mencerabut sesuatu dari dirinya berdasarkan kecerdasan kita. Dan ketika yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan kemungkinan besar ungkapan ”ini telah menjadi kenyataan” akan kita katakan. Namun, pertanyaannya bukankah kenyataan yang kita miliki hanyalah bagian dari kenyataan yang sesungguhnya. Bahkan dapat dikatakan, hanyalah perwujudan dari sesuatu yang sesuai dengan intelektualitas dan kebutuhan kita. Kita tidak perlu muluk-muluk masuk dalam ideologi platonis. Mari kita melihat sesuatu. Jika kita berramai-ramai memperhatikan sebuah pohon yang tinggi dan masing-masing dari kita mencoba menjelaskan tentang pohon itu. Dan kita puas dengannya. Tetapi mengapa masih banyak kemungkinan dalam kurun waktu yang mungkin berbeda untuk menjelaskan tentang pohon itu. Hal ini membuktikan bahwa kenyataan yang kita dilihat dan penjelasan yang kita berikan bukan semua dari/tentang kenyataan itu. Hanya sebagian sehingga ada banyak kemungkinan untuk dapat menjelaskan sesuatu dalam waktu yang sama maupun berbeda. Atau justru kita tidak akan pernah menyentuh the nucleus of the real thing-nya. Apalagi jika hal ini telah dibungkus oleh kepentingan tersendiri yang selalu tersembunyi atau kelihatan kemudian. Sebab kepentingan ini cenderung mengabaikan banyak hak yang tidak sesuai dengan kebutuhan walau telah terkuak.

Batas: Ruang Bicara
Analogi di atas telah memaparkan adanya batas-batas dalam menguraikan sesuatu. Kelemahan, kekurangan, bahkan keraguan membuktikan akan adanya sesuatu yang masih belum seutuhnya terungkap. Keadaan ini mungkin bukan dikarenakan keterbatasan bahasa maupun daya nalar yang kita miliki. Tetapi lebih daripada itu terletak pada sekat atau ruang bicara numerik yang berurutan menuju sesuatu. Ruang bicara numerik itu ibarat kita memasuki rumah orang lain atau berbicara dengan diri orang lain. Di sana, kita memiliki tata santun, keramahan, dan keakraban dan mungkin banyak hal lain yang perlu diperhatikan. Kemudian dari sekian alur dan rentang waktu kita akan masuk dalam mengetahui siapa orang lain. Kita kembali pada satu hal yang penting bahwa di setiap ruang itu kita memiliki batas-batas pembicaraan. Namun, batas itu sekaligus sebagai ruang bicara yang hendaknya semakin diperluas. Sebab jika berhenti pada satu level saja kenyataan yang terungkap pun hanya sebagian saja.

Batas sebagai ruang bicara menuturkan dan membongkar banyak hal. Bukan justru menyembunyikan dan menutupinya. Di sana, kelemahan, kekurangan bahkan keraguan selalu menjadi titik balik untuk mengulas sesuatu menjadi lebih tajam. Ketajaman bukan semata-mata mengasah titik akhir menjadi jelas namun memunculkan anima universal yang setiap saat tersingkap. Mungkin bahkan yang tidak kita inginkan. Sebab dari ketersingkapan itu ruang bicara ini semakin meluas dan menempatkan banyak orang dalam ruang yang sama.

Tatkala batas menjadi ruang bicara, jejaring kenyataan akan semakin tampak. Ibarat kita melemparkan beberapa batu kecil di permukaan air yang tenang. Setiap batu [topik/fokus] membentuk batas lingkaran tersendiri. Namun, lama-kelamaan batas-batas itu akan terkait satu sama lain membentuk sebuah jaringan yang mungkin saling mengungkap. Masing-masing memiliki batas namun sekaligus batas itu menjadi pengait perluasan wacana pada kenyataan-kenyataan.



labels wedding rings collection gold pure freeweding art wallpapers free wallpapers car body design

Assalamualaikum wr.wb.
"ARTI SEBUAH KENANGAN"

Tahukah engkau...
Dirimu pergi disaat aku membutuhkan...
Jangan kau pergi tinggalkan, semua kenangan di antara kita
Seakan kita tak pernah kenangan bersama
Padahal yang ku igin engkau dapat
mengerti cinta di hatiku
akan semua kenangan yang telah terukir

Kapan dapat kau mengerti arti kenangan
Diriku bersama semua kenangan indah bersamamu
Berikan aku hidup lebih indah
Seakan tak terasa engkau tlah pergi

Masihkah engkau dicintainya
Apakah aku takkan bisa kembali
Bersamamu untuk mecintaimu
Tahukah engkau siapa yang selalu mengagumimu.

Di spanjang hidupnya hanya mencintaimu
Adakah yang punya cinta seperti ini
Akulah yang punya cinta seperti ini
Percayalah ku selalu mengagumimu di spanjang hidupku


labels wedding rings collection gold pure freeweding art wallpapers free wallpapers car body design